MAKALAH
PT143 ILMU TEKNOLOGI REPRODUKSI TERNAK PERAH
MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERAH
Dosen Pengampu :
Dr.Ir. Arif,MS
Anggota Tim :
Sadri :1410621022
Fajri
Maulana :1410621025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
belakang
Manajemen suatu peternakan sapi
perah penting untuk diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia
peternakan khususnya peternakan sapi perah. Manajemen sebagai pedoman agar
tidak terjadi kerugian baik secara materi maupun kerugian secara genetik dan
agar terciptanya sebuah usaha peternakan yang efektif dan efisien. Susu sebagai
hasil utama dari ternak perah khususnya sapi perah dihasilkan melalui suatu
peternakan sapi perah. Kualitas dan kuantitas serta kontinuitas produksi susu
dari suatu perusahaan peternakan sapi perah sangat penting untuk menjamin
kelangsungan produksi dari peternakan sapi perah. Dalam menjaga kelangsungan
produksi susu yang stabil dan tidak terjadi kesalahan manajemen yang
mengakibatkan keadaan sapi tidak sesuai kriteria produksi atau laktasi.
Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu
faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan
produktivitas sapi perah . Tatalaksana pemeliharaan pedet sejak lahir sampai
disapih men_jadi sangat penting dalam upaya menyediakan bakalan balk sebagai
pengganti induk mapun untuk digemukan sebagai ternak pedaging . Penerapan
tatalaksana pemeliharaan perlu dilakukan sedini mungkin atau sejak pedet baru
lahir, mengingat 25-30% dari pedet yang lahir akan mengalami kematian pada
periode 4 bulan pertama (SIREGAR,1992) .
Proses
pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini
disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak
ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan
kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu,
demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan
sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada. Berdasarkan hal ini,
maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan
ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik
dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk
susu yang telah diperah.
Pemerahan pada umumnya masih tradisional atau manual
yaitu masih menggunakan tangan dan jari-jari tangan manusia, sedangkan
pemerahan secara mekanik masih jarang dijumpai, hal ini karena masih rendahnya
pemilikan sapi perah yaitu antara 2-5 ekor per peternak. Begitu pula
dalam penggunaan peralatan masih secara tradisional.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui dan menpelajari cara serta teknik
pemerahan susu agar pada proses pemerahan tidak terjadinya pencemaran terhadap
susu serta kualitas susu terjamin.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Sistem
Pemeliharaan sapi pedet
2.1.1. Persiapan kandang menjelang kelahiran
Dilakukan dengan membersihkan kandang induk
kemudian dilengkapi dengan alas kandang dari jerami padi . Kandang pedet dibagi
atas dua yaitu :
1. Kandang
Individu
Kandang yang
dipergunakan untuk satu ekor anak sapi. Kandang ini dipergunakan sejak anak
sapi dipisahkan dari induknya sampai anak sapi berumur 8-10 minggu. Dengan
menggunakan sistem kandang ini anak sapi tidak saling berhubungan satu dengan
lainnya, hal ini sangat menguntungkan karena dapat mencegah menularnya penyakit
apabila salah satu anak sapi tersebut menderita suatu penyakit.
2.
Kandang
Kelompok
Kandang
untuk anak sapi yang lebih dari satu ekor. Banyaknya anak sapi tergantung dari
besarnya kandang, tetapi berdasarkan A. Coletti (1966) bahwa kandang kelompok
diisi 6 - 10 ekor dan kandang ini
dipergunakan untuk anak-anak sapi yang tidak lagi mendapatkan air susu
(diberikan air susu). Kandang dilengkapi dengan tempat makanan / konsentrat dan
bak makanan ini harus cukup untuk semua anak sapi apabila makan pada saat yang
sama.
3. Kandang mudah
dibongkar atau dipasang
Kandang ini
sebenarnya sama dengan kandang, hanya kandang ini di rancang sehingga dapat/mudah dibongkar/ dipasang dan
dipindahkan. Dapat dibuat dari kayu, ram kawat atau jeruji besi. Kandang ini
biasanya ditempatkan di padang rumput yang terbuka dan bersih. Halaman kandang
anak sapi harus bebas dari parasit-parasit, terutanna cacing, lalat, dan
serangga lainnya.
2.1.2. Perawatan saat kelahiran
Perawatan terhadap pedet yang baru lahir
dilakukan dengan membersihkan lendir pada hidung, mulut, dan lendir yang ada
diseluruh tubuhnya karena cairan yang menutupi hidung akan mengganggu
pernafasan anak sapi . Selanjutnya pedet dimasukan kedalam kandang anak yang
sudah diberi alas jerami padi/kain kering yang tidak menimbulkan becek/basah
Untuk mencegah terjadinya infeksi dilakukan pemotongan terhadap tali pusar.
Tali pusar yang masih menggantung kemudian dicelupkan pada larutan yodium
tinctuur . Pencelupan tali pusar kedalam larutan yodium dilakukan setiap hari
sampai tali pusar kering.
2.1.3.Pemberian Kolostrum
Kolostrum diperoleh dengan cara memerah induk
yang telah dibersihkan ambingnya . Kolostrum diberikan pada anak sapi dengan
menggunakan dot bayi sebanyak 3 liter/ekor/hari . Kolostrum diberikan 2 kali
sehari yaitu pagi pukul 08 :00 dan slang pukul 14 :00. Selanjutnya kolostrum
diberikan setiap hari secara berturut-turut dengan jumlah dan jadwal yang sama
selama 4 hari sampai kolostrum habis. Pedet tidak memiliki antibodi (kekebalan
tubuh) sebelum memperoleh kolostrum dari induknya. Untuk itu I jam setelah
lahir pedet diberi kolostrum dari induknya. Apabila tidak diperoleh kolostrum
dapat dibuat secara buatan sebagai pengganti kolostrum (SUDONO, 1989).
2.1.4. Pemberian susu
Pemberian susu terhadap pedet dilakukan dengan
cara memerah induk setiap hari kemudian pedet dilatih untuk meminumnya melalui
ember. Susu diberikan 2 kali sehari yaitu pagi hari sekitar pkl. 08:00 dan
slang hari sekitar pkl. 14:00. Jumlah pemberian setiap ekor pedet setiap hari
masing-masing sebanyak 3 It, 4 It dan 3 It secara berturut-turut mulai umur
5-30 hari, 31-60 hari, dan 61-90 hari. Setelah kolostrum habis diperah
dilanjutkan dengan pemberian susu sampai disapih. Susu merupakan makanan utama
bagi pedet. Kelangsungan hidup dan pertumbuhannya ditentukan oleh kecukupan
pedet memperoleh susu. Oleh karena itu pemberian susu bagi pedet perlu mendapat
perhatian dan penanganan yang baik.
2.1.5. Pemberian konsentrat
Anak diajarkan makan konsentrat setiap hari
dengan pemberian sebanyak 0,5- 1 kg pada mulai umur 60-90 hari. Pedet dilatih
memakan konsentrat dengan menempelkan konsentrat pada mulut pedet. Pengenalan
dan pemberian konsentrat perlu dilakukan sedini mungkin karena pada umur 2,5-3
bulan rumen dan reticulum pedet sudah sudah berkembang yang volumenya mencapai
70%. Sebaliknya volume abomasum dan omasum menyusut kecil mencapai 30% dari
seluruh lambung. Setelah pedet bekembang menjadi dewasa volume rumen menjadi
80%, reticulum 5%, omasum 8% dan abomasum 7%. (AAK, 1995).
2.1.6. Pemberian hijauan
Mulai umur 3 minggu pedet diajarkan makan
rumput. Pemberian rumput dilakukan setiap hari dengan jumlah pemberian
masing-masing sebanyak 0,25 kg/ekor, 0,5 kg/ekor dan I kg/ekor secara
berturut-turut mulai umur 21-30 hari, 31-60 hari dan 61- 90 hari. Rumput yang
diberikan pada pedet dipilih yang masih muda dan kemudian dipotong-potong
dengan golok atau mesin chopper sehinga mudah dicerna oleh anak sapi.
Sebagaimana konsentrat rumput (hijauan) perlu dikenalkan dan diberikan sedini
mungkin. Pemberian rumput yang dimulai pada umur I minggu dapat merangsang
perkembangan rumen yang sangat mendukung pertumbuhan selanjutnya (Hidayati,
1995)
2.1.7. Penyapihan
Dua puluh hari menjelang penyapihan, pemberian
susu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak diberi susu, sebaliknya
pemberian konsentrat dan hijauan ditingkatkan sampai saat disapih, sehingga
terbiasa dan tidak mengalami stres herat . Setelah berumur 90 hari pedet
dipisah dari pemberian susu untuk teals dipelihara atau dibesarkan sebagai
pengganti induk atau untuk digemukkan sebagai ternak pedaging. Dengan melakukan
penyapihan hiaya pembesaran pedet menjadi lebih hemat dan volume susu yang
dijual dapat ditingkatkan .
2.2. Sisitem pemeliharaan sapi dara
2.1.1. Perkandangan
Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup
yang sehat dan nyaman bagi sapi dan tidak menimbulkan kesulitan dalam
pelaksanaan tatalaksana. Oleh karena itu, konstruksi, bentuk, macam kandang
harus dilengkapi dengan ventilasi yang sempurna, dinding, atap, lantai, tempat
pakan, tempat minum, drainase, dan bak penampungan kotoran yang baik pula.
Tanpa kandang, peternak sangat sulit untuk melakukan kontrol, pemberian pakan,
pengawasan, pemerahan, dan pengumpulan kotoran.
Macam
Kandang Sapi Dara yaitu :
- Kandang tunggal
Kandang
tunggal atau individu adalah kandang yang hanya terdiri satu ruangan atau bangunan
dan didesain hanya digunakan untuk memelihara ternak satu ekor.
Kandang koloni
2. Kandang koloni adalah kandang yang hanya terdiri
dari satu bangunan atau satu ruangan, tetapi digunakan untuk memelihara ternak
secara berkelompok atau bersama-sama, biasanya pada kandang ini terdiri dari 2
macam yaitu : kandang face to face dan tail to tail.
2.2.2. Pemberian
pakan dan minum
Pakan sapi
terdiri dari hijauan sebanyak 60% (Hijauan, lamtoro, rumput gajah, rumput
benggala atau rumput raja, daun dan batang jagung,) dan konsentrat
(40%). Umumnya pakan diberikan dua kali per hari pada pagi dan sore hari. Pakan
berupa rumput bagi sapi dara umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan
(BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. .
2.2.3. Program perkawinan
Pada sapi dara untuk pertama kali harus diperhatikan
dewasa tubuh dan kelaminnya karena ini berkaitan dengan kebuntingan sapi,
partus( kelahiran ), umur sapi
dara pada umumnya pertama kali dikawinkan dengan 13 bulan
– 15 bulan. Perkawinannya dilaksanakan
dengan cara inseminasi buatan (IB). Untuk setiap jenis sapi memiliki berat
standar yang berbeda. Sapi dara rata-rata di kawinkan pertama kali di bobot
badan 300 kg.
2.2.4.Penanganan kesehatan
Penganan kesehatan yang dilakukan pada sapi dara hampir
sama dengan sapi laktasi yaitu :
- Memandikan sapi
Sapi sebaiknya dimandikan sekali sehari, untuk
mengurangi resiko adanya bibit penyakit yang timbul dan menyebabkan penularan
penyakit.
- Pemotongan kuku
Pemotongan kuku dilakukan 6 bulan sekali. Pemotongan kuku
ini bertujuan agar keseimbangan kaki dan kesehatan sapi tidak terganggu.
- Pemberian obat cacing
Pemberian obat cacing dapat dilakukan 6 bulan sekali.
Hal ini untuk memastikan ternak sapi tidak terjangkit penyakit cacingan(
nematoda,cestoda ). Penyakit cacingan mengakibatkan nutrisi yang seharusnya
untuk sapi tidak terserap seluruhnya.
2.3. Sistem pemeliharaan sapi laktasi
2.3.1 Pakan Sapi Perah
Ransum induk
laktasi pada dasarnya terdiri dari hijauan (leguminosa
maupun rumput-rumputan dalam keadaan segar atau kering) dan konsentrat yang
tinggi kualitas dan palatabilitasnya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
dalam penyusunan ransum sapi adalah ransum cukup mengandung protein dan lemak,
perlu di perhatikan sifat supplementary
effect dari bahan pakan ternak, dan ransum tersusun dari bahan pakan yang
dibutuhkan ternak (Akoso, 1996).
Bahan pakan
ternak sapi pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga, yakni pakan hijauan,
pakan penguat dan pakan tambahan (Girisonta, 1995).
Pakan
hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman atau
tumbuhan berupa daun-daunan,
terkadang batang, ranting, dan bunga. Kelompok jenis pakan hijauan adalah
rumput, legume dan tumbuhtumbuhan lain, yang dapat diberikan dalam bentuk segar
dan kering (Kusnadi dkk, 1983).
Hijauan
segar adalah pakan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar, dapat berupa
rumput segar ,batang jagung muda, kacang-kacangan dan lain-lain yang masih
segar (Sitorus, 1983).
Hijauan
kering adalah pakan yang berasal dari hijauan yang dikeringkan misalnya jerami
dan hay (Anonimus, 1996). Pakan hijauan untuk induk laktasi dapat diberikan
dalam bentuk kering(hay) maupun dalam
bentuk basah atau hijauan segar (dalam bentuk silage). Pembuatan “hay” biasanya berupa hijauan berbentuk tegak
yang dikeringkan, sedangkan pembuatan “silage” di daerah tropis masih sulit
dilakukan karena banyak hijauan yang sudah tua dan sukar mengeluarkan udara
dari dalam silo sehingga bersifat anaerob
yang dibutuhkan kurang sempurna (Zainuddin, 1982).
Pakan
konsentrat adalah bahan pakan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan
serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan dapat berupa dedak atau
bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ketela pohon atau gaplek dan
lain-lain. Pada umumnya peternak menyajikan pakan konsentrat ini masih sangat
sederhana, yakni hanya membuat susunan pakan/ ransum yang terdiri dari dua
bahan saja, dan bahkan ada yang hanya satu macam bahan saja (Sudono,
1983).Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa vitamin dan mineral. Pakan
tambahan ini dibutuhkan oleh sapi yang dipelihara secara intensif dan hidupnya
berada dalam kandang terus-menerus. Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah
vitamin A, vitamin C, vitamin D dan vitamin E, sedangkan mineral sebagai bahan
pakan tambahan dibutuhkan untuk berpropuksi, terutama kalsium dan posfor
(Sutardi, 1984). Ukuran pemberian pakan untuk mencapai koefisien cerna tinggi
dicapaidengan perbandingan BK hijauan : konsentrat = 60% : 40.
2.3.2. Cara pembuatan Hay dan Silase
Hay adalah
tanaman hijauan yang di awetkan dengan cara di keringkan dibawah sinar matahari
kemudian di simpan dalam bentuk kering dengan kadar air 12%-30%, warna tetap
hijau dan berbau enak.Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air hijauan
secara bertahap tetapi berlangsung secara cepat. Tujuan menurunkan kadar air
adalah agar sel-sel hijauan tersebut cepat mati dan mencegah pertumbuhan
mikroorganisme. Dengan demikian tidak terjadi proses kimia baik berupa
respirasi maupun fermentasi yang dapat menghasilkan panas. Pada hijauan,
keadaan ini akan dicapai pada bahan kering 80-85%. Panas yang dipakai berasal
dari sinar matahari, dengan demikian proses pengeringan sangat dipengaruhi oleh
keadaan cuaca.
Kelebihan Hay
a) Menghemat biaya peralatan
b) Lebih cepat prosesnya
c) Dapat dikontrol kerusakan fisiknya,
karena mudah terlihat
d) Ternak tidak perlu penyesuaian cara
makannya, seperti pada silase
Kelemahan
a) Sangat tergantung cuaca
Metode Pembuatan Hay
Ada 2 metode
pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:
a.Metode Hamparan
Merupakan
metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan
yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).
yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).
b.Metode Pod
Dilakukan
dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah
dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air ± 50%). Hijauan yang akan diolah harus
dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan
kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur.
Langkah Pembuatan Hay
a) Alat
- Sabit rumput/gunakan mesin pemanen rumput
- Pelataran untuk menjemur rumput dan rak untuk menghamparkan rumput yang
akan dikeringkan
- Alat pengukur kandungan air hay
(Delmhorst digital hay meter andbale sensor)
- Gudang untuk menyimpan hay.
- Tali untuk mengikat hay yang sudah
kering.
b) Bahan
-
Rumput yang
berbatang halus sehingga mudah dikeringkan.
c) Cara Kerja
- Sabit rumput dikebun rumput
- Lakukan penimbangan berat rumput.
- Bila dilakukan pengeringan dengan sinar matahari
kerjakan dilantai jemur, jika lantai jemur menggunakan para-para yang mendatar
maupun yang miring, hijauan hendaknya dibalik tiap 2 jam. Lama pengeringan
tergantung tercapainya kandungan air antara12-20 %.
- Bila memakai ‘dryer’, hijauan dimasukkan ke pengering.
Lakukan pemotongan dengan panjang yang memadai dengan mesin pengering tersebut.
Gunakan suhu pengering 100-250 _C, hentikan bila kandungan air sudah mencapai
12-20 %.
- Lakukan pengukuran kandungan air hay dengan
menggunakan alat pengukur kandungan air (Delmhorst digital hay meter and bale
sensor).
- Ukur suhu gudang tempat penyimpanan hay.
d) Penyimpanan
Hay
- Hay harus di simpan di tempat yang kering, terlidung
dari air hujan, sebaiknya jangan di letakan di atas tanah, karena tanah
bersifat lembab.
Adapun Kriteria Hay yang Baik :
- Berwarna tetap hijau meskipun ada yang berwarna
kekuningkuningan
- Daun yang rusak tidak banyak, bentuk hijauan masih
tetap utuh dan jelas, tidak terlalu kering sebab akan mudah patah
- Tidak kotor dan tidak berjamur.
- Mohon di ingat Alat Pengukur Parameter keberhasilan
pembuatan hay yang terbaik adalah Ternak yang akan memakannya.
2.
SILASE
Silase
adalah hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam
keadaan segar (dengan kandungan air 60-70 %) melalui proses fermentasi dalam
silo. Silo dapat dibuat diatas tanah yang bahannya berasal dari: tanah, beton,
baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas dan lain sebagainya. Didalam silo
tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa
udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang
terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi.
Tujuan Pembuatan Silase
Tujuan utama
pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang
terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan
dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi
ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada
musim kemarau.
Pembuatan Silase
-
Alat
a) Silo
Alat yang
akan dipakai untuk melakukan proses fermentasi, pengawetan hijauan, dan
penyiapan. Sebaiknya dengan kapasistas untuk 50 kg hijauan yang telah dicacah.
b) Mesin pencacah (Chopper) atau golok
dan talenan
Untuk
mencacah hijauan yang akan dibuat silase
c) Plastik atau bahan lain yang tidak
tembus rembesan air sebagai pelapis pada dinding dan penutup silo
d) Ban bekas/bahan-bahan yang digunakan
sebagai pemberat.
- Bahan
a) Hijauan makanan ternak (bahan yang
telah dipanen) yang akan diawetkan dengan dibuat silase.
b) Bahan pengawet (additif) yang
dipilih dari salah satu yang tersebut di atas.
- Langkah
Kerja Pembuatan Silase
a) Hijauan makanan ternak (rumput
maupun limbah pertanian), dilayukan dengan cara diangin-anginkan kurang lebih
semalaman, kemudian dicacah dengan panjang potongan 2-5 cm atau dilakukan
dengan mesin pencacah (chopper).
b) Bila tidak dicampur dengan bahan
pengawet/ additif, hijauan yang telah dicacah dapat langsung di masukkan ke
dalam silo. Jika diberi pengawet/additif, penambahannya dilakukan dengan cara
menaburkan secara merata selapis demi selapis untuk hijauan dengan ketebalan 10
cm, kemudian diaduk sampai rata.
c) Hijauan yang telah dicampur dengan
additif atau pengawet, ditekan kuat-kuat dalam silo (bak silo/kantung plastik),
dipadatkan dengan jalan diinjak-injak sehingga tidak ada lagi udara yang
tersisa (hampa udara). Silo diisi padat atau nya.
d) Silo dapat dibongkar sesudah proses
fermentasi selesai (30 hari).
Kualitas Silase yang Baik
- pH sekitar 4
- Kandungan air 60-70%
- Bau segar dan bukan berbau busuk
- Warna hijau masih jelas
- Tidak berlendir
- Tidak berbau mentega tengik
2.3.2 Perkandangan
Luas minimum
per ekor untuk kandang sapi dara/dewasa adalah untuk umur 6-12 bulan 2,7 m2,
umur 13-18 bulan 3,7 m2 dan untuk umur 19-24 4,7 m2 (Coletti, 1966).
Ada tiga tipe yang bisa digunakan
pada kandang konvensional dengan ukuran yang berbeda tergantung pada bangsa
sapi yang dipelihara. Tipe-tipe tersebut adalah:
1.
Stanchion
Stalls ( Ieher sapi dimasukkan kedalam jeruji)
Pada sistem ini sapi-sapi Iehernya
dimasukkan ke dalam jeruji, terbuat dari pipa besi atau kayu yang kuat.
Sistem ini dapat dibuat untuk keseluruhan sapi-sapi atau dibuat untuk tiap ekor
sapi. Sistem ini sapi-sapi kurang dapat bergerak bebas, tetapi
mendapatkan keuntungan kebersihan dari sapi-sapi tersebut.
2.
Tie Stalls
(tipe kandang dimana leher sapi diikat dengan rantai pada pipa besi)
Tipe kandang
di mana sapi-sapi diikat Iehernya dengan rantai besi atau tali yang kuat dan
ditambatkan pada pipa besi yang dibuat khusus pada bagian dalam bak makanan.
3. Comfort Stalls (sapi-sapi dibariskan sampai batas
maksimal sepanjang kandang).
Pada sistem ini di mana sapi-sapi dibariskan sampai
batas maksimal sepanjang kandang tersebut. Sapi-sapi tidak diikat tetapi pada
setiap kandang dibatasi besi yang dialirkan arus listrik, sehingga apabila sapi
tersebut akan bergerak ke kanan atau ke kiri badan sapi terkena besi tersebut,
akhirnya sapi akan terdiam.
4. Sistem Kandang Bebas (Long Housing System)
Pada sistem kandang ini semua sapi dilepas di dalam
kandang yang luas sehingga sapi-sapi dapat bergerak bebas dan berkeliaran
sesukanya. Dengan menggunakan sistem kandang ini memungkinkan biaya
membuat kandang lebih murah dan untuk usaha peternakan yang besar serta
membutuhkan sedikit tenaga kerja.
2.3.3. Penyakit
Penyakit
yang biasa menyerang sapi perah laktasi dan mempengaruhi produksi susu adalah mastitis, brucellosis, dan milk fever.
Upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara sanitasi kandang,
pengobatan, vaksinasi, menjaga kebersihan sapi, dan lingkungan (Siregar, 1993).
Mastitis adalah penyakit pada ambing akibat
dari peradangan kelenjar susu. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus cocci dan Staphylococcus cocci yang masuk melalui
puting dan kemudian berkembangbiak di dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi
karena puting yang habis diperah terbuka kemudian kontak dengan lantai atau
tangan pemerah yang terkontaminasi bakteri (Djojowidagdo, 1982 ).
Brucellosis adalah penyakit keluron/ keguguran menular pada hewan yang disebakan oleh bakteri Brucella abortus yang menyerang sapi,
domba, kambing, babi, dan hewan ternak lainnya. Brucellosis bersifat zoonosa artinya penyakit tersebut dapat
menular dari hewan ke manusia.
Penyakit milk fever disebabkan karena kekurangan
kalsium (Ca) atau zat kapur dalam darah (hypocalcamia)
(Sudono et al, 2003). Milk fever menyerang sapi perah betina
dalam 72 jam setelah melahirkan dengan tandatanda tubuhnya bergoyang kanan kiri
saat berjalan (sempoyongan), bila tidak cepat diobati sapi akan jatuh dan
berbaring. Pengobatan dilakukan dengan menyuntikkan 250 - 500 ml kalsium
boroglukonat ke dalam pembuluh darah). Jika dalam 8-12 jam tidak berdiri maka
penyuntikkan dapat dilakukan lagi.
2.3.4. Masa kering kandang
Masa kering
sapi perah mulai dilaksanakan kira-kira delapan minggu sebelum ternak tersebut
melahirkan. Pada kondisi ini ternak perlu mendapatkan perhatian yang ekstra
agar ternak tetap sehat sehingga untuk produksi yang akan datang
menjadi lebih baik. Tujuan di laksanakannya masa kering pada sapi ternak yang
bunting ini adalah untuk mengembalikan kondisi tubuh atau memberi istirahat
sapi dan mengisi kembali kebutuhan vitamin serta mineral dan menjamin
pertumbuhan foetus di dalam kandang. Menurut Siregar dalam Adika Putra (2009),
masa kering sapi perah yang terlalu pendek menyebabkan produksi susu turun.
Masa kering sapi perah secara normal adalah 80 hari dan pakan terus dijaga
mutunya, terutama 2-3 bulan terakhir sebelum masa kering kandang.
Proses
Pengeringan Dengan Cara Pengaturan Pemerahan
Menurut
Syarief dan Sumoprastowo (1990) dalam proses pengeringan atau menuju masa
kering sapi perah dapat dilakukan dengan cara pengaturan pemerahan, proses
pemerahan tersebut dapat di lakukan dengan 3 cara yaitu sebagai berikut :
a. Pemerahan
berselang yaitu pengeringan yang menggunakan cara sapi hanya diperah
sekali sehari selama beberapa hari. Selanjutnya satu hari diperah dan hari
berikutnya tidak diperah. Kemudian induk diperah 3 hari sekali hingga akhirnya
tidak diperah sama sekali.
b.Pemerahan tidak lengkap yaitu pemerahan
tetap dilakukan setiap hari, tetapi setiap kali pemerahan tidak sekali puting
atau keempat puting itu diperah, jadi keempat puting itu diperah secara
bergantian. Setiap kali memerah hanya 2 puting saja, dan hari berikutny a bergantian puting lainnya. Hal ini
dilakukan beberapa hari hingga akhirnya tidak diperah sama sekali. Cara ini
dilakukan pada sapi yang mempunyai kemampuan produksi tinggi.
c.Pemerahan
yang dihentikan secara mendadak yaitu pengeringan ini dilakukan dengan
tiba-tiba. Cara pengeringan semacam ini didahului dengan tidak memberikan
makanan penguat 3 hari sebelumnya, dan makanan kasar berupa hijauan pun
dikurangi tinggal seperempat bagian saja. Cara ini lebih efektif dan
memperkecil gangguan kesehatan pada ambing, bila kombinasikan dengan cara
pemerahan berselang.
2.3. Sistim
Pemerahan
Pemerahan adalah tindakan
mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan
bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang
maksimal. Terdapat tiga tahap pemerahan yaitu pra pemerahan,
pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan (Syarief dan
Sumoprastowo, 1990).
2.3.1.Fase Persiapan
Sebelum pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan
bersih-bersih dan mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek
agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari
segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan
dalam keadaan yang bersih (Muljana, 1985).
2.3.1.Pelaksanan Pemerahan Susu
Proses pemerahan yang baik harus dalam interval yang
teratur, cepat, dikerjakan dengan
kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, tengan menggunakan
prosedur sanitasi, serta efisien dalam menggunaan
tenaga kerja (Prihadi, 1996).
Berusaha
memperoleh hasil air susu sebanyak-banyaknya, merupakan tugas yang pokok dari
keseluruhan pekerjaan bagi usaha ternak perah. Tugas kedua adalah menjaga agar
sapi tetap sehat dan ambing tidak rusak. Pelaksanaan pemerahan yang kurang
baik, mudah sekali menimbulkan kerusakan pada ambing dan puting karena infeksi
mastitis, yang sangat merugikan hasil susu.
Dengan menggunakan 2 teknik pemerahan yaitu
teknik pemerahan menggunakan mesin perah (teknologi) dan teknik pemerahan
manual/ tangan.
. a. Menggunakan Mesin
Perah
Sebelum
sapi diperah, kandang dan sapi harus dibersihkan terlebih dahulu menggunakan
air bersih. Yang lebih penting adalah bagian puting ambingnya. Karena jika
puting sapi yang akan diperah dalam keadaan masih kotor, maka mikroba yang
menenempel dapat terbawa dan menyebabkan terjadinya kontaminasi atau pencemaran
bakteri. Dalam waktu yang singkat, mikroba pada susu akan tumbuh dan berkembang
lebih cepat dan nilai kwalitas susu menjadi jelek dan dianggap susu rusak. Jika
susu sudah dalam keadaan rusak dan terkontaminasi bakteri, maka dampaknya pada
konsumen yang meminumnya.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam
pemerahan menggunakan mesin perah yaitu :
a) Sapi dan kandang dibersihkan dengan
air
b) Ambing harus diperhatikan
kebersihannya
c) Mesin perah disediakan
d) Listrik dinyalakan
e) Dengan hati-hati mesin penyedot
(vacum leaner) ditempatkan satu-persatu pada bagian putingnya
f) Ketika pemerahan sedang berjalan,
berilah catatan (recording) pada setiap tabung yang sudah terisi susu sesuai
dengan nomor sapinya.
g) Setelah pemerahan selesai, maka
alat-alat dibersihkan dan disimpan kembali pada tempat yang tersedia
Kelebihan
dan kekurangan
1. Kelebihan menggunakan mesin perah
a) Dengan menggunakan mesin perah, maka
hasil pemerahan lebih optimal. Karena
pada saat pemerahan susu tidak tercecer kemana-mana
b) Waktu yang dibutuhkan lebih efisien dan
relatif cepat
c) Pekerja tidak terlalu berat dalam
memerah
d)
Jika waktu pemerahan lebih cepat, maka dampak tercemarnya mikroba lebih kecil
2.
Kekurangan
a)
Biaya untuk membeli mesin terlalu mahal
b)
Jika semua mesin dinyalakan maka listrik yang terpakai juga harus besar
Pelaksanan
penanganan susu yang baik (Good Handling Practices) memerlukan peralatan
penanganan yang baik dan benar sesuai tempat tahapan penanganan susu dilakukan.
(Anonim, 2011)
Alat Yang
Ada Dipemerahan Sapi Antara lain:
a. Ember Susu
Fungsi :
Sebagai wadah penampungan susu yang diperah secara manual.
Spesifikasi
: SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
b. Saringan Susu
/ Strainer
Fungsi :
Benda-benda asing yang terikut air susu pada waktu pemerahan (rambut, sel
ephithel, kotoran lain), perlu disaring agar air susu benar-benar bersih.
Spesifikasi
: SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
c. Milk Can
Fungsi :
Sebagai alat untuk menampung dan menyimpan sementara susu hasil pemerahan,
untuk segera dikirim ke Koperasi / MCC (Milk Collecting Center) maupun ke
Industri Pengolahan Susu yang jarak dan waktu tempuhnya tidak lebih 2 jam dari
proses pemerahan. Alat ini berbahan stainless steel/aluminium, berpenutup rapat
dan umumnya berkapasitas 5, 10, 20, 30, 40, 50 liter.
Spesifikasi
: SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
d. Mesin
Pemerah Susu
Fungsi :
Sebagai sarana untuk memerah susu secara pneumatis, dimana pemerahan dilakukan
dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah kedalam penampung
melalui unit perah . Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu
dengan tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih
bersih dan higienis. Selain itu juga jumlah sapi dan kapasitas pemerahan jauh
lebih tinggi
Pada
dasarnya semua mesin pemerah susu terdiri atas :
1. Pompa
Vakum
2. Pulsator
3. Milk
claw
4. Sedotan
puting (Teat cup)
5. Wadah
susu (Bucket)
Dikenal 3
(tiga) macam model mesin perah susu, yaitu :
1.Sistem
Bangsal Pemerahan (Milking parlor system)
Pemerahan berlangsung di suatu bangsal atau ruang
khusus yang disiapkan untuk pemerahan.Di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin
perah.Setiap satu mesin melayani seekor sapi.Sasu hasil pemerahan langsung
ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung pengukur
produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke
bangsal pemerah melalui suatu tempat (holding area) yang luasnya terbatas dan
sapi berdesakan. Di holding area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala
arah, selanjutnya sapi satu per satu masuk bangsal (milking parlor).
Sistem
bangsal perah (milking parlor system) mempeunyai bentuk yang
bermacam-macam, antara lain:
a.Sistem sirip ikan tunggal atau
ganda (single/double heringbone milking,parlor)
b.Sistem sirip ikan berbentuk wajik
(heringbone diamond shaped polygon milking parlor}
c.Sistem komidi putar (rotary milking
parlor)
2.Sistem
ember (Bucket system)
Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang
menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari
tempat satu ke tempat lain. Sitem ini cocok digunakan untuk petemak kecil.Susu
hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di setiap mesin.
Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu,
kemudian dituang di tangkipendingin.
Pemerahan
dengan sisitem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang
jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang
kandangnya berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di
Indonesia dengan harapan dapat menekan kandungan kuman dalam susu.
3.Sistem
Pipa (Pipe line system)
Pada sistem ini, pemerahan langsung juga berada di
dalam kandang dimana sapi yang akan diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin
perah dipindah dari sapi satu ke sapi berikutnya. Sedang susu hasil pemerahan
langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa berhubungan
dengan udara luar.
b.Pemerahan
dengan Tangan/Manual
Pemerahan dengan tangan ini menghendaki suatu
pekerjaan yang teliti dan halus, sebab kalau dilakukan dengan kasar akan buruk
pengaruhnya terhadap banyaknya susu yang dihasilkan. Sebelum melakukan
pemerahan sususapi, ada beberapa hal yang harus
disiapkan oleh peternak, diantaranya :
cuci/bersihkan
ambing sapi dengan air hangat,kandang sapi sudah
dibersihkan, peralatan yang akan digunakan berada dalam keadaan steril
Kegunaan
pembersihan ambing dengan air hangat bertujuan untuk : merangsang
keluarnya air susu,mengurangi kemungkinan air susu terkontimanasi oleg bakteri
,mengurangi munculnya mastitis (menurunkan produksi susu hingga 30 %.)
Suhu air
yang digunakan untuk mencuci ambing sapi berada diantara 48 – 57 derajat
celcius, dan lebih baik jika air mengandung disenfektan.
2.3.3.Setelah
fase pemerahan Ada 3 cara pemerahan dengan tangan yaitu :
1.Whole hand
(tangan penuh)
Cara ini adalah yang terbaik, karena puting tidak akan
menjadi panjang olehnya. Cara ini dilakukan pada puting yang agak panjang
sehingga dapat dipegang dangan penuh tangan. Caranya tangan memegang puting dengan
ibu jari dan telunjuk pada pangkalnya. Tekanan dimulai dari atas puting diremas
dengan ibu jari dan telunjuk, diikuti dengan jari tengah, jari manis, dan
kelingking, sehingga air dalam puting susu terdesak ke bawah dan memancar ke
luar. Setelah air susu itu keluar, sekluruh jari dikendorkan agar rongga puting
terisi lagi dengan air susu. Remasan diulangi lagi berkali-kali.
Jika ibu
jari dan telunjuk kurang menutupi rongga puting, air susu tidak akan memancar
keluar, tetapi masuk lagi ke dalam ambing dan sapi akan kesakitan. Sedapat
mungkin semua pemerahan dilakukan dengan sepenuh
tangan. Teknik ini
dilakukan dengan cara menggunakan kelima jari. Puting dipegang antara
ibu dari dan keempat jari lainnya, lalu
ditekan dengan keempat jari tadi (Syarief dan Harianto, 2011).
2. Stripping
(perah jepit)
Puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk yang
digeserkan dari pangkal puting ke bawah sambil memijat. Dengan demikian air
susu tertekan ke luar melalui lubang puting. Pijatan dikendorkan lagi sambil
menyodok ambing sedikit ke atas, agar air susu di dalam cistern (rongga susu).
Pijatan dan geseran ke bawah diulangi lagi. Cara ini dilakukan hanya untuk
pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar
dikerjakan dengan cara lain.
3. Knevelen
(perah pijit)
Cara ini sama dengan cara penuh tangan, tetapi
dengan membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika pemerah
merasa lelah.. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak dan tidak menyakiti
puting. Teknik ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki puting
pendek. (Syarief dan Harianto, 2011).
2.3.4.Pasca
Pemerahan
Selesai diperah, ambing dilap menggunakan
kain yang telah dibasahi oleh desinfektan.
Kemudian dilap kembali dengan kain yang kering. Setelah itu ,puting
juga dicelupkan ke dalam cairan desinfektan selama 4 detik. Semua
peralatan yang digunakan untuk memerah juga harus
dibersihkan, kemudian dikeringkan. Susu hasil pemerahan juga harus segera
ditimbang, dicatat, kemudian disaring agar kotoran saat
pemerahan tidak ikut masuk ke dalam susu (Syarief
dan Harianto, 2011).
Sesudah
pemerahan sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam
larutan desinfektan untuk menghindari terjadinya mastitis (Syarief
dan Sumoprastowo, 1990).
2.3.5.Pengaturan
Waktu Pemerahan
a)Musim
Sapi yang melahirkan di musim dingin atau musim gugur umumnya produksi susunya lebih tinggi dibandingkan yang melahirkan di musim panas. Jadi pada cuaca yang panas produksi susu sapi umumnya menurun.
Pada sapi yang digembalakan, umumnya produksi susunya menurun pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan, ini hubungannya dengan ketersediaan hijauan makanan ternak.
Sapi yang melahirkan di musim dingin atau musim gugur umumnya produksi susunya lebih tinggi dibandingkan yang melahirkan di musim panas. Jadi pada cuaca yang panas produksi susu sapi umumnya menurun.
Pada sapi yang digembalakan, umumnya produksi susunya menurun pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan, ini hubungannya dengan ketersediaan hijauan makanan ternak.
b) Frekuensi
Pemerahan
Pada umumnya sapi diperah 2 kali sehari ialah pagi dan
sore hari. Pemerahan yang dilakukan lebih dari 2 kali sehari hanya dilakukan
pada sapi yang dapat berproduksi susu tinggi, misalnya pada sapi yang produksi
susunya 20 liter per hari dapat diperah 3 kali sehari; sedangkan sapi yang
berproduksi susu 25 liter atau lebih per hari dapat diperah 3 kali sehari.
Pada sapi yang berproduksi tinggi bila diperah 3 – 4 kali sehari produksi susunya lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya diperah 1 – 2 kali sehari. Pemerahan 3 kali sehari akan meningkatkan produksi susu sebanyak 10 – 25 % dibandingkan dengan pemerahan 2 kali sehari. Peningkatan produksi susu tersebut karena pengaruh hormon prolaktin yang lebih banyak dihasilkan dari pada yang diperah 2 kali sehari.
Bila sapi diperah dua kali sehari dengan selang waktu yang sama antara pemerehan tersebut, maka sedikit sekali terjadi perubahan kualitas air susu. Bila sapi diperah 4 kali sehari, kadar lemak akan tiggi pada besok paginya pada pemerahan pertama. Makin sering sapi diperah, produksi susu akan naik seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Kendrik (1953).Kenaikan hasil susu itu tergantung pada kemampuan sapi itu untuk perproduksi, makanan dan manajemen.
Pada sapi yang berproduksi tinggi bila diperah 3 – 4 kali sehari produksi susunya lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya diperah 1 – 2 kali sehari. Pemerahan 3 kali sehari akan meningkatkan produksi susu sebanyak 10 – 25 % dibandingkan dengan pemerahan 2 kali sehari. Peningkatan produksi susu tersebut karena pengaruh hormon prolaktin yang lebih banyak dihasilkan dari pada yang diperah 2 kali sehari.
Bila sapi diperah dua kali sehari dengan selang waktu yang sama antara pemerehan tersebut, maka sedikit sekali terjadi perubahan kualitas air susu. Bila sapi diperah 4 kali sehari, kadar lemak akan tiggi pada besok paginya pada pemerahan pertama. Makin sering sapi diperah, produksi susu akan naik seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Kendrik (1953).Kenaikan hasil susu itu tergantung pada kemampuan sapi itu untuk perproduksi, makanan dan manajemen.
2.4.
Penaganan Susu
Cara
penanganan air susu sesudah pemerahan adalah sebagai berikut:
1. Air
susu hasil pemerahan harus segera dikeluarkan dari kandang untuk menjaga jangan
sampai susu tersebut berbau sapi atau kandang. Keadaan ini penting terutama
jika keadaan ventilasi kandang tidak baik.
2. Air
susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain putih
dan bersih, susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setalah selesai penyaringan milk can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci bersih
dan digodok kemudian dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak dipakai
kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu.
3. Tanpa
menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu perlu didinginkan secepat mungkin sesudah
pemerahan dan penyaringan
sekurang-kurangnya
pada suhu 4oC–7oC
selama 2 atau 3 jam. Hal ini dilakukan untuk mencegah berkembangnya kuman yang
terdapat didalam air susu.bila tidak mempunyai alat pendingin maka pendinginan
tersebut dilakukan dengan menggunakan balok es, dalam hal ini milk can yang telah berisi susu dimasukkan
kedalam bak yang berisi es balok dan ditutup rapat. Jika peternakan tidak
mempunyai alat pendingin, susu harus dibawa ke cooling unit atau KUD yang mempunyai alat pendingin dalam waktu
tidak lebih dari 2,5 jam sesudah pemerahan. Bila tidak dapat ditempuh dalam
waktu 2,5 jam maka dianjurkan menambahkan H2O2 (Hidrogen Peroksida)
dengan kepekatan 35% sebanyak 2 cc untuk setiap liter air susu. Dengan
perlakuan demikian air susu dapat tahan selama 24 jam di daerah tropis.
Tanpa
perlakuan penanganan, susu tidak dapat disimpan lebih dari 12 jam. Berdasarkan
uji reduktase, penambahan H2O2 0,06%, air susu dapat disimpan
selama 48 jam, sedangkan berdasarkan uji alkohol, susu dapat disimpan selama 24
jam. Susu masak dan susu kukus dapat disimpan selama 24 jam berdasarkan uji
reduktase dan 12 jam berdasarkan uji alkohol (Ernawati, et al., 1986).
Ernawati
(1991) menyatakan hasil penelitiannya tentang pengaruh tata laksanan pemerahan
terhadap kualitas susu kambing, sebagai berikut: Tata laksana pemerahan yang baik
akan menghasilkan susu dengan jumlah mikroorganisme yang lebih sedikit (3,86%)
dibandingkan dengan tata laksana yang kurang baik. Selain itu dikatakan bahwa
tata laksana pemerahan tidak berpengaruh terhadap komposisi, keasaman dan pH
susu kambing.
2.5.
Pengolahan prodak susu
2.5.1.Susu
Homogen
Susu
homogen adalah susu yang telah mengalami homogenisasi. Proses homogenisasi
bertujuan untuk menyeragamkan besarnya globula-globula lemak susu. Apabila
setelah proses homogenisasi dilakukan penyimpanan pada suhu 10-15 °C selama 48
jam tidak akan terjadi pemisahan krim pada susu. Didalam susu yang belum
dihomogenisasi, globula-globula lemak ini besarnya tidak seragam yaitu antara
2-10 mikrometer. Alat untuk menyeragamkan globula-globula lemak tersebut disebut
homogenizer. Ketidakhomogenan didalam
pembuatan produk-produk olahan susu tertentu, salah satu misalnya es krim,
karena hasilnya tidak akan terasa halus, tetapi kerugian susu homogen adalah
mudah mengalami creaming yaitu
memisahnya kepala susu (krim) dibagian atas
terpisah dari serum yang terletak dibagian bawah. Homogenisasi dapat
meningkatkan viscositas (viscosity) + 10
%.
Tahapan
proses homogenisasi dapat dilakukan dengan :
1. Single stage homogenization, digunakan
untuk homogenisasi:
- Produk
dengan kandungan lemak rendah
- Produk
yang memerlukan homogenisasi berat (heavy)
- Produk
yang memerlukan viscositas tinggi
2. Two stage homogenization, digunakan
untuk:
- Produk
dengan kandungan lemak tinggi
- Produk
dengan kandungan bahan kering (konsentrasi susu) tinggi
- Produk
dengan viscositas rendah
Krim dan Susu Skim
Krim
adalah bagian susu yang banyak mengandung lemak yang timbul ke bagian atas dari
susu pada waktu didiamkan atau dipisahkan dengan alat pemisah. Ada pula yang
menyebutnya ‘kepala susu”. Susu skim adalah bagian susu yang banyak mengandung
protein, sering disebut “serum susu”. Susu skim mengandung semua zat makanan
dari susu kecuali lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Krim dan
susu skim dapat dipisahkan dengan alat yang disebut separator. Alat ini bekerja berdasarkan gaya sentrifuge. Pemisahan
krim dan susu skim dapat terjadi karena kedua bahan tersebut mempunyai berat
jenis yang berbeda. Krim mempunyai berat jenis yang rendah karena banyak
mengandung lemak. Susu skim mempunyai berat jenis yang tinggi karena banyak
mengandung protein, sehingga dalam sentrifugasi akan berada dibagian dalam.
Susu skim
dapat digunakan oleh orang yang menginginkan nilai kalori rendah di dalam
makanannya, karena susu skim hanya mengandung 55% dari seluruh energi susu, dan
susu skim juga digunakan dalam pembuatan keju dengan lemak rendah dan yoghurt.
Susu skim seharusnya tidak digunakan untuk makanan bayi tanpa adanya pengawasan
gizi karena tidak adanya lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.
Ada enam
macam krim, yaitu:
a. Half and half cream
Yaitu yang
hanya mengandung lemak 10,5-16%. Krim ini biasanya diperoleh dari mencampur
krim yang kandungan lemaknya tinggi dengan susu segar sehingga tercapai kadar
lemak tersebut diatas.
b. Light cream
Yaitu krim
yang mempunyai kadar lemak 18-22%. Biasanya telah mengalami homogenisasi.
c. Light whipping cream
Yaitu krim
yang mempunyai kandungan lemak 30-34%. Krim ini tidak dihomogenisasi sebab
perlakuan homogeniasi akan menyebabkan krim mempunyai daya mengembang yang
kecil.
d. Heavy whipping cream
Yaitu krim
yang mempunyai kandungan lemak lebih besar dari pada 34%. Krim ini juga tidak
dihomogenisasi.
e. Sour cream (krim asam)
Yaitu krim
yang kadar lemaknya tidak kurang daripada 18%. Yang diperam dengan bakteri asam
laktat. Krim dipasteurisasi.
f. Whips
Yaitu krim
pasteurisasi yang mengandung gula. Bahan-bahan pemberi cita rasa dan zat
penstabil.
BAB III
KESIMPULAN
Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu
faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan
produktivitas sapi perah . Tatalaksana pemeliharaan pedet sejak lahir sampai
disapih men_jadi sangat penting dalam upaya menyediakan bakalan balk sebagai
pengganti induk mapun untuk digemukan sebagai ternak pedaging . Penerapan
tatalaksana pemeliharaan perlu dilakukan sedini mungkin atau sejak pedet baru
lahir, mengingat 25-30% dari pedet yang lahir akan mengalami kematian pada
periode 4 bulan pertama (SIREGAR,1992) .
Proses
pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini
disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak
ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan
kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu,
demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan
sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada..
Pemerahan dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada
pagi hari jam 06.00 WIB dan sore hari jam 16.00 WIB. Persiapan yang dilakukan
yaitu sapi digiring ke tempat pemerahan kemudian sebelum diperah
ambingnya dibersihkan terlebih dahulu dengan menyemprotkan air menggunakan
selang serta memberikannya konsentrat agar sapi tenang. Hal ini sesuai
dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sebelum
pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan
mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak
melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran,
tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam
keadaan yang bersih.
DAFTAR PUSTAKA
Muljana, W.
1985.Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu. Semarang.
Prihadi.1996.
Tata Laksana dan Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta.
Putra, A.
2009. Potensi Penerapan Produksi Bersih Pada Usaha Peternakan Sapi erah (Studi Kasus Pemerahan susu sapi Moeria
Kudus Jawa Tengah). Magister Ilmu Lingkungan
Universitas Diponegoro, Semarang
Syarief, M.
Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta.
Syarif, E
dan Harianto, B. 2011.Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Agromedia Pustaka, Jakarta
Laporan Koperasi
Produksi Susu Bogor . 1995. Rapat Anggota Tahunan 1995.Petunjuk Teknis Informasi Peternakan, Dinas Peternakan Daerah
Tingkat I Jawa Barat
Ernawati
et al., 1986. Pengaruh Penanganan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Air Susu
Sapi. Media Peternakan Vol: 50-59. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Hadiwiyoto,
S., 1994. Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit Liberty. Yogyakarta.